Skip to main content

Kembangkan Varietas Kopi Unggul di Tana Toraja, Warga LDII Raih Penghargaan Satyalancana Wira Karya

 

Warga LDII Bogor, Rubiyo yang juga profesor riset meraih tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya. Foto: LINES.

Jakarta (30/4). Warga LDII Bogor, Rubiyo yang juga profesor riset meraih tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya. Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan acara “BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri”, di gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Senin (28/4).

Rubiyo mengungkapkan, pihaknya mengembangkan metode pemuliaan kopi jenis unggul varietas Toraya Uluway, Toraya Bolong, Toraya Langda dan Toraya Buntu Santung. “Melakukan diseminasi teknologi, hingga pendampingan pada petani di Tana Toraja, sehingga meningkatkan hasil produksi 200 persen per tahun dan memperkuat ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rubiyo mengungkapkan, produktivitas kopi dari varietas baru yang dikembangkan tersebut, menghasilkan produksi per hektare yang tinggi. “Dengan skor cita rasa kopi berkisar 87,38 poin,” katanya.

Peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut mengatakan, motivasinya melaksanakan riset tersebut, karena kopi Toraja terkenal di Mancanegara memiliki kualitas yang sangat baik. Tana Toraja juga potensial, karena memiliki luas lahan untuk pengembangan kopi, mencapai 10.000 hektare.

“Masalahnya, diperlukan pengembangan varietas kopi Toraja yang adaptif, sesuai dengan agroekologi di Tana Toraja. Varietas yang kami kembangkan memiliki cita rasa aroma yang tinggi,” ujar Rubiyo.

Terkait dengan metode pemuliaan yang dikembangkan, Rubiyo mengatakan, menggunakan pemuliaan partisipatif. “Kami melakukan perakitan varietas berdasarkan kebutuhan petani kopi di Tana Toraja. Sehingga, bisa menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lokasi penelitian,” tuturnya.

Berbicara tantangan teknis dalam proses pengembangan varietas kopi tersebut, Rubiyo mengatakan, petani tidak mudah menerima inovasi teknologi yang dihasilkan, jika belum ada contoh di lapangan. “Jika telah ada, mereka akan mau mengadopsi teknologi tersebut. Dan ini, memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil,” pungkasnya.

Untuk itu, ia mengungkapkan, pihaknya membuat demplot di lokasi petani kopi dan di wilayah pengembangan tanaman kopi. “Hal ini penting, karena demplot tersebut dapat digunakan sebagai sarana edukasi dan percontohan untuk masyarakat yang akan mengembangkan kopi,” kata Rubiyo.

Hasilnya, ia mengatakan, kopi yang dikembangkan memiliki mutu yang baik, volume produksi yang meningkat, “Sehingga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat,” imbuh Rubiyo.

Sementara itu, memaknai penghargaan yang diberikan tersebut, Rubiyo mengatakan, memberikan dorongan semangat untuk bisa berkarya lebih baik lagi. “Sehingga, dapat terus berkontribusi menghasilkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan teknis,” jelasnya.

Menutup wawancara, terkait dengan target selanjutnya, Rubiyo menegaskan, akan terus mewujudkan inovasi teknologi yang mudah diadopsi oleh masyarakat, “Secara lingkungan aman, dan secara ekonomi menguntungkan,” tutupnya.

Dengan mengedepankan kerjasama dan saling mendukung memperkuat dari Lima Unsur Pembina Generus (LUPG) yakni Alim Ulama, Muballigh Muballighot, Para Pengurus, Pakar Pendidik dan Orangtua maka diharapkan semua program yang telah disusun oleh Penggerak Pembina Generus (PPG) lewat sebuah wadah Taman Pendidikan Islam (TPI) bisa berjalan seperti yang diharapkan, sehingga tujuan utama pembinaan generasi penerus bisa tercapai, yakni menjadi generasi yang Alim Faqih, Berakhlaqul Karimah dan Mandiri. Maka dengan ini kami PAC LDII Kelurahan Baru Kecamatan Pasar Rebo Kota Administrasi Jakarta Timur bersepakat untuk mendirikan sebuah Taman Pendidikan non formal bernama Taman Pendidikan Islam Al Manshurin (TPI Al Manshurin) sebagai perwujudan karya bakti kepada Agama, Bangsa dan Negara.

Comments

Taman Pendidikan Islam Al Manshurin 2016-2026 Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.