Skip to main content

Ketua Umum DPP LDII Tawarkan Solusi Kebangsaan Agar Nilai-Nilai Pancasila dapat Dibumikan

 

Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini tidak melemahnya rumusan ideologi negara. Foto: LINES

Jakarta (1/6). Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini tidak melemahnya rumusan ideologi negara. Persoalannya adalah pada melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga budaya yang muncul belakangan menunjukkan adanya jarak antara nilai luhur Pancasila dengan praktik di lapangan.Dody Taufiq Wijaya menjelaskan, menguatnya individualisme, intoleransi, penyebaran hoaks, polarisasi politik, hingga menurunnya etika dalam ruang publik menjadi indikasi bahwa pengamalan Pancasila memerlukan penguatan serius.

Ia menilai perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan penguatan karakter kebangsaan dan moralitas masyarakat, “Pancasila sejatinya bukan sekadar hafalan atau simbol formal negara. Pancasila harus hadir dalam perilaku sosial, cara bermasyarakat, hingga pengambilan kebijakan publik. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian bangsa,” ujar Dody.

Ia menambahkan, sila Persatuan Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar akibat menguatnya politik identitas dan rendahnya literasi digital masyarakat. Di sisi lain, sila Keadilan Sosial juga masih menghadapi persoalan ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Dody, solusi atas persoalan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan seluruh elemen bangsa. Ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Ia menegaskan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga harus membentuk moral, etika, serta semangat gotong royong. menurutnya LDII mendorong penguatan budaya dialog dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Dody menilai ruang-ruang interaksi sosial perlu diperkuat agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan politik, suku, maupun agama.

“Bangsa ini dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Karena itu, budaya saling menghormati dan dialog harus terus dirawat. Jangan sampai perbedaan justru menjadi sumber konflik,” katanya.

Dalam bidang ekonomi, Dody juga menegaskan pentingnya menghadirkan pembangunan yang berkeadilan dan berpihak kepada masyarakat kecil. Ia mendorong pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, serta pemerataan pembangunan hingga daerah-daerah.

Menurutnya, agar generasi muda menjadi insan yang Pancasilais, membutuhkan keteladanan para pemimpin menjadi faktor penting dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila. Ia berpendapat masyarakat lebih mudah mengamalkan nilai kebangsaan apabila para elite politik, tokoh masyarakat, dan pejabat publik menunjukkan integritas, kejujuran, dan kepedulian sosial.

“Keteladanan adalah kunci. Pancasila tidak akan efektif hanya lewat slogan, tetapi harus dicontohkan dalam tindakan nyata oleh seluruh pemimpin bangsa,” ungkapnya.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, LDII menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan karakter, dakwah moderat, pengabdian masyarakat, serta program-program pemberdayaan umat yang berorientasi pada persatuan dan kemajuan bangsa.

Dengan mengedepankan kerjasama dan saling mendukung memperkuat dari Lima Unsur Pembina Generus (LUPG) yakni Alim Ulama, Muballigh Muballighot, Para Pengurus, Pakar Pendidik dan Orangtua maka diharapkan semua program yang telah disusun oleh Penggerak Pembina Generus (PPG) lewat sebuah wadah Taman Pendidikan Islam (TPI) bisa berjalan seperti yang diharapkan, sehingga tujuan utama pembinaan generasi penerus bisa tercapai, yakni menjadi generasi yang Alim Faqih, Berakhlaqul Karimah dan Mandiri. Maka dengan ini kami PAC LDII Kelurahan Baru Kecamatan Pasar Rebo Kota Administrasi Jakarta Timur bersepakat untuk mendirikan sebuah Taman Pendidikan non formal bernama Taman Pendidikan Islam Al Manshurin (TPI Al Manshurin) sebagai perwujudan karya bakti kepada Agama, Bangsa dan Negara.

Comments

Taman Pendidikan Islam Al Manshurin 2016-2026 Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.